0882022044248
Iklan DPRD Berau

Minta Pemerintah Beri Kepastian soal Musala dan Embung di Maratua

$rows[judul] Keterangan Gambar : Abdul Waris

Meditama.id, TANJUNG REDEB – Proyek pembangunan embung di Kampung Payung-Payung kembali menuai perhatian. Anggota DPRD Berau, Abdul Waris menyoroti ketidakjelasan kelanjutan proyek tersebut, terutama setelah muncul keluhan warga terkait mushola yang sebelumnya dibongkar namun hingga kini belum juga dibangun kembali.

Waris menjelaskan, pada awal perencanaan proyek, mushola yang berada di lokasi pembangunan embung memang diruntuhkan karena lahannya akan digunakan untuk pembangunan fasilitas penampungan air tersebut. Namun hingga saat ini, proyek yang direncanakan itu justru belum menunjukkan perkembangan yang jelas.

Ia menyebutkan, masyarakat setempat kini mempertanyakan nasib proyek tersebut, karena selain pembangunan embung yang belum terealisasi, keberadaan mushola yang dulu digunakan warga untuk beribadah juga belum digantikan.

“Awalnya mushola itu dibongkar karena lahannya akan dipakai untuk pembangunan embung. Tapi sampai sekarang embungnya tidak ada kelanjutannya, kontraktornya juga tidak jelas, sementara mushola yang dulu juga belum dibangun lagi,” ungkapnya.

Wakil rakyat dari daerah pemilihan pesisir itu juga menyoroti besarnya anggaran yang telah dialokasikan untuk proyek tersebut. Ia menyebut nilai dana yang sudah digelontorkan untuk pembangunan embung di kawasan itu mencapai sekitar Rp15 miliar.

Menurutnya, penggunaan anggaran yang cukup besar tersebut seharusnya dapat menghasilkan pembangunan yang nyata bagi masyarakat. 

Karena itu, ia mempertanyakan apakah proyek tersebut masih akan dilanjutkan atau justru membutuhkan tambahan anggaran baru.

“Anggaran yang sudah masuk ke proyek embung itu sekitar Rp 15 miliar rupiah. Kalau ingin dilanjutkan lagi, tentu perlu dihitung kembali berapa tambahan anggaran yang dibutuhkan,” ujarnya.

Waris menilai persoalan ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah dalam merencanakan proyek pembangunan, khususnya yang menggunakan anggaran besar. 

Ia menekankan pentingnya kajian yang matang sebelum proyek dilaksanakan agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun pemerintah.

Dirinya menyinggung kemungkinan alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di kawasan tersebut. 

Menurutnya, apabila tujuan utama pembangunan embung adalah penyediaan air bersih, ada opsi lain yang dapat dipertimbangkan dengan biaya yang lebih efisien.

Salah satunya adalah teknologi desalinasi air laut yang dinilai dapat menjadi solusi dengan kebutuhan anggaran yang lebih kecil dibandingkan pembangunan embung.

“Kalau tujuannya untuk menyediakan air bersih, sebenarnya ada opsi lain seperti desalinasi. Mungkin dengan anggaran sekitar Rp 5 miliar sudah bisa berjalan, sementara proyek embung ini anggarannya besar tetapi belum terealisasi,” jelasnya.(adv/jek)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)